Breaking News
Loading...

BTemplates.com

  • New Movies
  • Recent Games
  • Tech Review

Tab 1 Top Area

Tech News

Game Reviews

Recent Post

Wednesday, 15 September 2010
no image

IPB Temukan Teknologi Penghitung Benih Ikan Lebih Cepat

BOGOR--MI: Tim peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor berhasil menemukan teknologi tepat guna untuk menghitung benih ikan secara cepat dan tepat.

"Teknologi terbaru yang ditemukan peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) diberi nama Fry Counter atau penghitung nener/benih ikan," kata Ayi Rakhmat SPi MSi, seorang anggota tim peneliti FPIK IPB, Senin (13/9), di Bogor. Dengan teknologi tersebut, petani ikan bisa berhemat waktu dan tenaga untuk menghitung benih ikan yang hendak dijualbelikan.

Produk Fry Counter merupakan jawaban atas masalah-masalah yang sering dikeluhkan oleh para pengusaha benih ikan pada proses penanganan pascapanen di bidang perikanan. Penelitian tentang Fry Counter dilatarbelakangi oleh hasil pengamatan terhadap proses kegiatan produksi pada pembenihan ikan patin yang masih tidak efisien.

Dalam proses produksi tersebut, lanjut dia, kegiatan penghitungan benih yang biasa diperjualbelikan pada saat larva masih dilakukan secara manual. Padahal, jumlah yang dihitung mencapai puluhan sampai ratusan ribu ekor. "Proses penghitungan manual ini membutuhkan waktu lama, sehingga kurang efesien," katanya.

Dengan penghitungan manual, kata Ayi Rakhmat, petani ikan membutuhkan waktu satu sampai dua hari untuk 50 ribu ekor ikan yang dihitung dengan tenaga kerja tiga sampai empat orang dengan rata-rata kerja lima jam per hari. Angka 50 ribu ini merupakan angka terkecil yang biasa dilakukan petani.

Jika benih ikan yang dihitung mencapai ratusan ribu ekor, waktu yang dibutuhkan lebih lama dan biaya yang dikeluarkan lebih mahal lagi. (Ant/OL-5)


mediaindonesia
Tuesday, 14 September 2010
no image

Bangun Sistem Inovasi Nasional Khas Indonesia

Inovasi adalah kekuatan daya saing industri dan bangsa. Kekuatan yang tercipta dari tangan inovator di lembaga riset itu, dapat berdampak bila disalurkan ke industri hingga ke pasar. Karena itulah perlu dibentuk Sistem Inovasi terpadu hulu-hilir yang merangkum semua komponen terkait.

"Jika kita ingin memetik kemampuan berinovasi yang mapan di hilir, kita perlu terjun mengurai dan menata kompleksitas masalah yang terjadi di hulu," urai Zuhal, Ketua KIN (Komisi Inovasi Nasional). Seperti yang disinggung dalam bukunya berjudul "Knowledge Platform Kekuatan Daya Saing & Innovation", keruwetan itu berkaitan dengan interaksi antara inovator di lembaga riset, birokrasi di pemerintahan, dan sistem pendidikan.

Karena itu menurut Zuhal yang juga Rektor Universitas Islam Al Azhar Indonesia, di hulu harus dilakukan reformasi birokrasi dan sistem pendidikan, serta mendorong munculnya political will pemerintah dalam membangun Sinas (Sistem Inovasi Nasional) yang terpadu."

Dengan penataan Sinas yang baik dan penerapannya yang tepat, New Industrial Countries telah membuktikannya dapat mencapai perkembangan ekonomi yang pesat," lanjut Zuhal.

Indonesia jelas perlu membangun Sinas, namun harus dengan kebijakan yang tepat. Karena bila tidak, bukan pertumbuhan ekonomi yang cepat yang diperoleh, namun sebaliknya kemunduran.

Finlandia merupakan contoh negara yang sukses meningkatkan perekonomiannya karena mengaplikasikan Sinas yang tepat.

Dalam hal ini kebijakan dasar yang diambil negeri skandinavia ini adalah pembangunan sistem inovasi yang holistik, yaitu tidak hanya berkaitan dengan sains, teknologi dan pendidikan, tapi juga kebijakan lain mengenai perusahaan, persaingan usaha, lingkungan dan tenaga kerja.

Kebijakan dasar lainnya adalah membangun platform prioritas inovasi termasuk membentuk Dewan Sains dan Teknologi Finlandia (DSTF) dan membentuk jaringan pendanaan dan dukungan inovasi. Langkah Finlandia 'the Finland way" kemudian diikuti negara Eropa lainnya, seperti Belanda, Swiss, dan Estonia.

Indonesia dapat menempuh hal yang sama, namun harus bersikap kritis alam mengadopsi model Sinas negara lain. Karena negeri ini memiliki karakteristik wilayah yang berbeda dengan negara Skandinavia itu.

Penetapan model Sinas, selain perlu mengacu pada posisi geografis juga daya dukung alamnya. Kedua hal ini merupakan keuntungan komparatif yang tidak dimiliki negara lain. "Keunggulan ini mesti dijadikan pertimbangan penting”, tegas Zuhal, mantan Menristek.

Dengan model Sinas yang tepat -yakni mempertimbangkan kekhasan negeri sendiri - maka kelak dapat lebih mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan. Karena Indonesia 80 persen wilayahnya diliput oleh lautan, maka Zuhal mengusulkan model Sinas yang mendorong "Perekonomian berbasis Benua Maritim".

Dalam hal ini kekuatan Indonesia antara lain adalah pada kekayaan lautnya, sumberdaya energi dan mineral, keragaman budaya, serta memiliki nilai strategis dalarn hal transportasi dan hankamnya. Visi 50 tahun

Untuk membangun Sinas perlu kesadaran kolektif dan konsensus antarelemen masyarakat, terutama di lembaga riset, industri, dan pemerintah. Tiga kelompok atau institusi ini harus bersinergi membentuk triple helix. "Ikatan masing-masing institusi harus diatur agar aliran pengetahuan dari satu institusi ke institusi lainnya dapat berjalan lancar," urai Zuhal yang menjadi gurubesar di Fakultas Teknik Ul.

Konsensus masing-masing institusi kemudian dituangkan menjadi sebuah Visi Negara 50 tahun ke depan. Visi ini tidak boleh diubah selama kurun waktu itu. Visi ini mesti memiliki ketetapan kuat untuk menjadi acuan arah negara.

Setiap pemerintahan baru yang dipilih untuk memerintah selama lima tahun, harus mengacu kepada Visi Negara yang sudah disepakati itu. "Siapa pun yang memegang tampuk kekuasaan tidak harus mengubah visi itu, namun menjabarkan cara tercepat mencapai tujuan itu," jelasnya.

Dalam membangun system inovasi nasional, Zuhal melihat perlunya renovasi system pendidikan nasional untuk menciptakan SDM yang mampu mendukung kesinambungan inovasi bangsa. Dala kaitan ini diperlukan perubahan kurikulum menjadi kurikulum yang sangat fleksibel dengan memasukkan konsep baru inovasi kedalam system pengajaran, terutama pada tingkat universitas.

“Temuan baru dalam bidang sains dan teknologi dapat diperkenalkan melalui beberapa mata pelajaran tambahan atau mata kuliah piiihan” ,urai Zuhal. la juga menilai perlunya pengenalan konsep enterpreneurship pada pelajar dan mahasiswa di tingkat pendidikan menengah dan tinggi. Hal ini untuk menumbuhkan jiwa kewiraswastaan dalam mengantisipasi perubahan cepat di bidang iptek.

Selain itu menurut Zuhal, lembaga riset perlu dipertajam perannya dengan mendefinisi ulang tugasnya agar tidak terjadi tumpang tindih peran dan kompetensi. BPPT misalnya pada awal pembentukannya harus dekat dan memiliki jaringan erat dengan industri. Namun belakangan peran tersebut menjadi kabur.

Restrukturisasi BPPT perlu dilakukan baik dari segi organisasi maupun pola kerja dengan industri. Bahkan BPPT mungkin perlu diswastanisasi supaya dapat bergerak lincah dalam menciptakan peluang bisnis hingga dapat membangun kerjasama dan lobi bisnis lebih baik dengan dunia industri.(yi/mediaiptek edisi 33 agust-sept2010 hal 8-9/humasristek)


Ristek
Monday, 13 September 2010
no image

Telkom Siapkan Rp1,2 T untuk Akses Broadband

Dana dipakai untuk transformasi infrastruktur berbasis kabel tembaga ke serat optik.

VIVAnews - Dalam membangun infrastruktur akses broadband, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) telah menyiapkan dana sebesar Rp1,2 triliun. Hal itu dilakukan perseroan untuk mendongkrak kontribusi data dan Internet mencapai 20 persen.

Seperti diketahui, untuk mewujudkan cita-cita membangun Telkom Super Highway, perusahaan akan membangun jaringan serat optik bersama Metro-E, IPCore, dan Terra Router.

"Investasinya sekitar Rp1,2 triliun. Dananya diambil dari belanja modal tahun ini. Tahun depan pun akan disiapkan besaran yang sama mengingat layanan Home Digital Services (HDS) mulai dikomersialkan," kata Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa 7 September 2010.

Untuk diketahui, konsep HDS sendiri meliputi digital home communication, digital home office, digital entertainment, dan digital surveillance & security.

Ke depan, Telkom akan mengembangkan layanan Fiber To The home (FTTH) secara bertahap ke kota-kota besar di Tanah Air. Implementasi FTTH di dua perumahan milik ASG hanya sebagai milestone pertama transformasi infrastruktur akses broadband berbasis kabel tembaga (copper) ke serat optik.

"Nanti akan dilakukan secara bertahap. Akses kabel tembaga diharapkan sudah tergantikan semuanya oleh serat optik pada 2015, paling tidak di kota-kota besar Indonesia," ujar Muhammad Awaluddin, EGM Divisi Akses Telkom.

Dalam lima tahun ke depan, Telkom akan fokus pada penyediaan fiber access secara penuh hingga ke rumah-rumah atau gedung-gedung dengan target komposisi jaringan akses FFTE (end-to-end copper) 15 persen, akses FTTC (fibner to the curb) yang menggunakan teknologi MSAN (multi-service access node) dan GPON (Gigabyte Passive Optical Network) sekitar 70 persen, serta akses FTTB/H (fiber to the building/home) 15 persen. (art)


VIVAnews
Sunday, 12 September 2010
no image

Warnet Kian Tergerus Internet Ponsel

JAKARTA, KOMPAS.com — Bisnis warung internet semakin terpojok. Berdasarkan survei Yahoo!-TNS Net Index Indonesia atas ribuan penduduk Indonesia berusia 15-50 tahun, porsi pengakses internet di warnet turun dari 83 persen menjadi 64 persen. Sebaliknya, porsi pengakses internet dari ponsel melonjak dari 22 persen tahun lalu menjadi 48 persen.

Saat ini, jumlah pengguna internet di Indonesia 24,5 juta orang. Dari jumlah ini, sekitar 15 juta di antaranya adalah pengguna mobile internet.

Irwin Day, Ketua Umum Asosiasi Warung Internet Indonesia (AWARI), mengatakan, peralihan pengguna ini terjadi seiring kian murahnya perangkat dan pulsa ponsel. "Wajar kalau infrastruktur mobile bagus, warnet pasti turun," kata Irwin, Rabu (11/9/2010).

Menurutnya, pengusaha warnet yang paling terpukul adalah yang berada di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Maklum, berinternet via ponsel telah jadi tren di kota besar.

Sejauh ini, belum ada data konkret mengenai jumlah warnet bangkrut akibat peralihan ke internet ponsel. Namun, sebagai gambaran, Irwin mencontohkan, seorang pengusaha warnet di Bogor terpaksa mengoperasikan separuh dari 50 komputernya lantaran pemasukan tak cukup untuk menutupi biaya operasional.

Sebetulnya, menurut Ketua Bidang Sumber Daya Internet Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Valens Riyadi, jumlah pengguna warnet juga meningkat. "Semuanya meningkat, tetapi yang paling pesat perkembangannya adalah internet ponsel," katanya.

Pertumbuhan pengguna internet ponsel memang luar biasa pesat. Teguh Prasetya Mukti, Group Head Brand Marketing PT Indosat Tbk, mengatakan, penggunaan mobile internet mereka naik 100 persen ketimbang 2009. Kini, server Indosat menangani lalu lintas informasi sebanyak 21 terrabyte per hari.

Pertumbuhan lebih tinggi dicapai Telkomsel, operator seluler terbesar di Indonesia. Menurut Direktur Utama PT Telkomsel Sarwoto Atmosutarno, pengguna internet broadband mereka naik 165 persen dibanding 2009. "Penurunan pengguna warnet sama dengan wartel yang berkurang karena maraknya ponsel," ungkap Sarwoto.

Kenaikan pengguna mobile internet ini terjadi setahun terakhir. Cuma, pengguna internet umumnya hanya memakai ponsel untuk membuka situs jejaring sosial. Untuk aktivitas browsing, mengunduh data, dan sebagainya, mereka masih memakai komputer.

Toh, menurut Irwin, pengusaha warnet punya banyak cara untuk bertahan. Misalnya, mereka melakukan diversifikasi dengan menawarkan online game atau berpindah ke daerah yang lebih kecil yang prospek warnetnya masih cukup menjanjikan. (KONTAN/Indira Prana Ning Dyah, Naomi Theresa)


KOMPAS
Saturday, 11 September 2010
no image

Tim Robot ITS Berangkat ke Mesir

SURABAYA--MI: Rektor ITS Surabaya Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD, Selasa (7/9), melepas tim robot "Mio rEi" dari PENS-ITS ke laga robot dunia di Mesir pada 19-23 September mendatang.

Pelepasan enam anggota itu ditandai dengan pemakaian kaos tim robot "Mio rEi" oleh rektor yang disaksikan Direktur Litbang dan Operasional PT Semen Gresik Tbk, Ir Suharto MM, selaku sponsor utama tim.

"Robotnya sudah dikirim sebulan lalu, sedangkan tim robot yang berjumlah enam orang akan berangkat pada 17 September, tapi dilepas sekarang menjelang liburan Idul Fitri," kata Direktur PENS-ITS, Dadet Pramadihanto.

Dalam laporannya, ia mengatakan tim robot dari PENS-ITS sudah 12 kali mengikuti kontes robot tingkat nasional dan sembilan kali di tingkat internasional.

"Dalam 12 kali kontes robot nasional itu, tim PENS-ITS selalu juara, sedangkan sembilan kali di kontes robot dunia pernah sekali meraih juara dunia pada tahun 2001 dan 'runner up' di India pada 2008," katanya.

Tahun 2004, tim PENS-ITS meraih "Konawi Awards" dan tahun 2005 meraih "Best Design". "Untuk kontes robot di Mesir, tim robot Mio rEi sudah melakukan modifikasi, sehingga kecepatannya meningkat," katanya.

Dalam sambutannya, Rektor ITS Prof Priyo Suprobo menargetkan tim robot "Mio rEi" menjadi juara dunia dalam kontes robot tingkat dunia di Mesir.

"Kalau di India sudah bisa runner up, maka di Mesir seharusnya juara dunia. Selama ini, PENS-ITS sudah menjadi 'kiblat' robotika di Indonesia, karena itu tim robot PENS-ITS harus mentradisikasikan juara di tingkat dunia," katanya.

Tim "Mio rEi" beranggotakan enam mahasiswa yakni Bayu Sandi Martha, Muh Ali Anang Lubis, Rahardhita Widyatra Sudibyo, Zainul Arifin, Putus Dadar Gumilang, dan Aditya Sarjono.(Ant/OL-9)


mediaindonesia
Friday, 10 September 2010
no image

Browser Internet China Gempur Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - UC Mobile Ltd, perusahaan mobile browser asal China menawarkan layanan browser edisi bahasa Indonesia untuk pengguna ponsel di Indonesia.

CEO UC Mobile Ltd Yu Yongfu menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu negara yang pertumbuhan penggunaan internetnya tertinggi di Indonesia. Di mana pertumbuhan terbesar terjadi dalam segmen penggunaan internet melalui ponsel.

"Untuk negara seperti Indonesia, fenomena akses internet melalui ponsel tidak mengherankan. Karena kepemilikan PC sangat rendah akibat harga yang belum terjangkau," kata Yu, akhir bulan lalu.

Sementara infiltrasi ponsel sudah mencapai seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Yu menyebut pada 2010 ini diperkirakan ada lebih dari 40 juta ponsel baru dengan 80 persen di antaranya merupakan ponsel low seharga Rp 1,5 juta beredar di masyarakat.

"Besarnya potensi itulah yang mendorong kami hadir di Indonesia dengan UC browser edisi Bahasa Indonesia hari ini," jelas Yu. Sementara Andy Zain, perwakilan UC Mobile Indonesia bilang perilaku pengguna mobile internet di Indonesia beda tipis dengan China. Karena itu perusahaannya menawarkan teknologi dan fitur yang mirip dengan yang disediakannya di sana.

"Kami menyediakan semua sistem operasi populer, termasuk Java, Symbian, Android, BlackBerry, iPhone, Windows Mobile dan ponsel chipset MTK yang digunakan oleh banyak merek ponsel," jelasnya. UC Browser merupakan aplikasi yang dapat digunakan dan diunduh secara gratis. Pengguna harus memiliki ponsel dengan fasilitas akses data dan bisa mengunduh aplikasi di situs resmi mereka.

"Sampai Juli 2010, aplikasi kami sudah diunduh lebih dari 400 juta kali dengan pengguna aktif lebih dari 100 juta," papar Yu.(KONTAN/Gentur Putro Jati)


KOMPAS
Thursday, 9 September 2010
Kedelai Superbesar Karya Batan

Kedelai Superbesar Karya Batan

Inilah biji kedelai mutiara 1 yang diperkenalkan PPTN Batan (31/08/2010). Kedelai vaerietas baru ini merupakan kedelai unggulan terbaru temuan Batan.

Menteri Pertanian Suswono mendeskripsikannya sebagai kedelai superbesar: Varietas kedelai hasil iradiasi nuklir yang diberi nama Mutiara 1 itu dikerjakan para periset Badan Tenaga Nuklir Nasional selama enam tahun antara 2004 dan 2010.

"Riset ini mengikuti tuntutan pasar yang menghendaki kedelai varietas lokal, tetapi berbiji besar seperti kedelai impor,” kata Harry Is Mulyana di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (Patir) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Jakarta.

Harry bersama Arwin, Tarmizi, Masrizal, dan Muchlis Adie merupakan para periset kedelai Mutiara 1 yang diluncurkan sebagai varietas unggul oleh Menteri Pertanian Suswono pada 22 Juli 2010. Deskripsi kedelai Mutiara 1 yang superbesar didasarkan pada bobot rata-rata 23,2 gram per 100 biji. Ini lebih besar daripada kedelai impor Amerika Serikat yang hanya sekitar 18 gram per 100 biji.

Iradiasi gama

Harry menyebutkan, Mutiara 1 merupakan hasil iradiasi sinar gama. Iradiatornya yang dimiliki disebut Gammacell-220. Kapasitas penyinarannya hanya untuk 1 kilogram biji kedelai.

Ini disebut iradiasi nuklir, yaitu penyinaran memanfaatkan radioisotop untuk mengubah sifat kimiawi dan sifat fisis yang memancarkan sinar radioaktif. Istilah iradiasi berbeda dengan radiasi. Radiasi adalah pancaran sinar radioaktif ke segala arah tak menentu, sedangkan iradiasi adalah radiasi itu sendiri yang diarahkan pada fokus tertentu.

”Dari 1 kilogram biji kedelai yang diiradiasi di Gammacell-220 itu kemudian ditanam. Biji kedelai sudah mengalami mutasi gen. Benih yang dihasilkan lalu diseleksi untuk mendapatkan kedelai yang sesuai dengan yang dikehendaki,” kata Harry.

Iradiasi sinar gama ini memperbanyak keragaman genetik. Pengaruh yang ditimbulkan pada generasi pertama kali biasanya terjadi kerusakan fisik. Pada generasi kedua terjadi segregasi atau keragaman genetik seleksi. Kemudian mulai dipetakan untuk mendapatkan sifat yang diinginkan.

Menurut Harry, Mutiara 1 merupakan hasil mutasi gen pada kedelai lokal varietas Muria. Perubahan gen yang dikehendaki tidak bisa diperoleh serta-merta. Inilah yang membutuhkan waktu relatif lama hingga enam tahun untuk mendapatkan benih Mutiara 1 dengan gen yang dikehendaki.

Mutiara 1, selain berbiji besar, juga memiliki sifat tahan penyakit karat daun (Phakospora pachirhyzi Syd) dan tahan terhadap penyakit bercak atau hawar daun coklat (Cercospora). Mutiara 1 juga tahan hama penggerek pucuk (Melanagromyza sojae).

”Benih Mutiara 1 sebelum dilepas kepada petani harus stabil. Stabil artinya sudah tidak berubah lagi susunan gennya. Biasanya sampai pada generasi keempat,” kata Harry.

Biji kedelai setelah disinar gama kobalt (Co) 60 selama sekitar 15 menit dengan dosis 150 gray itu mengalami perubahan komposisi gen. Ini sebagai benih inti. Benih inti kemudian ditanam untuk menghasilkan benih penjenis. Hasil benih penjenis diperoleh lagi benih dasar. Dari benih dasar diperoleh benih pokok. Kemudian, dari penanaman benih pokok ini diperoleh yang disebut sebagai benih sebar.

”Benih sebar ini yang kemudian disertifikasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih untuk dikonsumsi sebagai benih siap tanam oleh petani,” kata Harry.

Ada sedikitnya empat tingkatan pemuliaan benih untuk mendapatkan Mutiara 1 agar bisa ditanam petani. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Suswono Nomor 2602/Kpts/SR.120/7/2010 tentang Pelepasan Galur Mutan Kedelai 37 MBB sebagai Varietas Unggul dengan Nama Mutiara 1, usia tanam kedelai ini tergolong genjah.

Dengan ketinggian batang rata-rata 46,8 sentimeter, kedelai Mutiara 1 dapat dipanen pada usia kira-kira 82 hari. Pada usia 30 hari, Mutiara 1 sudah berbunga warna ungu.

Hasil panen kedelai Mutiara 1 tak ubahnya dengan varietas kedelai lokal lain yang memiliki kadar protein 37,7 persen dan kadar lemak 13,8 persen. Ini sangat cocok untuk produksi tahu dengan rendemen sangat tinggi sampai 373,3 persen. Cocok pula untuk produksi tempe dengan rendemen 193,3 persen. Kedelai varietas lokal justru lebih disukai cita rasanya untuk tahu-tempe ketimbang kedelai impor.

Terus meningkat

Deputi Bidang Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir Batan Taswanda Tary mengatakan, hasil penelitian kedelai ini terus meningkat. Sebelumnya sudah diperoleh kedelai varietas Muria, Tengger, Meratus, Rajabasa, dan Mitani dengan cara iradiasi sinar gama Co 60 pula.

”Pelepasan pertama kali varietas Muria pada 1987. Terakhir dihasilkan kedelai varietas Mutiara yang memiliki produktivitas 2,4 ton hingga 4,1 ton per hektar,” kata Taswanda.

Varietas Muria memiliki produktivitas 1,8 ton per hektar dengan kelebihan tahan penyakit karat daun. Varietas Tengger dilepas pada 1991 dengan produktivitas 1,4 ton hingga 1,7 ton per hektar.

Varietas Meratus hampir mirip Tengger. Kemudian menginjak pada varietas Rajabasa terjadi peningkatan produktivitas berkisar 2,05 ton hingga 3,9 ton per hektar yang dilepas pada 2004. Bijinya besar, tahan penyakit karat daun, serta toleran terhadap lahan kering dan masam.

Diikuti pada 2008 dengan pelepasan varietas Mitani. Angka produktivitasnya mencapai 2 ton hingga 3,2 ton per hektar. Varietas ini tahan terhadap penyakit karat daun, tahan terhadap hama Aphis sebagai vektor penyakit virus, serta memiliki kadar protein yang tergolong tinggi.

Dari generasi Mitani ini kemudian disusul generasi Mutiara 1. Mutiara 1 telah lolos uji lokasi di 16 wilayah di Indonesia. Salah satunya di Nusa Tenggara Barat yang telah dipanen pada 29 Juli 2010. Sekarang saatnya petani menunggu penyebaran benih kedelai biji superbesar ini. Konsumen menanti tahu dan tempe varietas kedelai lokal.


KOMPAS
Copyright © 2014 Rocker One All Right Reserved